Jumat, 08 Februari 2013

Hilangnya "Cokot", Diingkarinya "Wayan"



Membincang Penggunaan Nama Khas Bali

HINGGA
 akhir tahun 80-an, mungkin tidak begitu sulit untuk mengenali orang Bali yang beragama Hindu. Cukup dengan melihat nama depannya, bila menggunakan Putu, Wayan, Made, Nengah, Nyoman atau Ketut, sudah bisa disimpulkan bahwa orang itu merupakan orang Bali. Begitu juga nama Ida Bagus, Ida Ayu, I Gusti, Desak, Anak Agung merupakan penanda identitas orang Bali dari golongan berkasta. Namun, kini mengenali orang Bali tak lagi semudah itu, tak lagi bisa hanya dengan melihat nama depannya. Pasalnya, tidak sedikit orang Bali beragama Hindu kini yang sudah tidak lagi menggunakan nama-nama depan khas semacam itu. Orang Bali sudah mulai menganggap bukan suatu keharusan untuk menggunakan nama Wayan di depan nama pokok anak pertamanya atau pun Made untuk anak keduanya. Malah, kecenderungan dua dasa warsa terakhir, tradisi warisan leluhur ini sudah mulai diingkari, mulai ditinggalkan.
-------------------------------

PUTU Edi Robin, seorang bapak muda asli Bali dengan amat sadar tidak lagi mengimbuhi nama depan khas Bali pada nama pokok dua orang anaknya. Putri pertamanya yang kini berusia lima tahun diberi nama Istacy Rosree Octivany Robin serta putra keduanya yang berusia dua tahun diberi nama Krisna Pratama Putra Robin. Tak ada nama depan Wayan atau Made. 

Alasan Robin mengingkari tradisi pemberian nama depan ini semata-mata ingin melakukan perombakan terhadap apa yang sudah mapan. Bagi lelaki asal Buleleng, Bali Utara --daerah yang dikenal sebagai tempat pertama membiaknya desakralisasi kultur Bali-- Bali mesti mengikuti kecenderungan dunia yang semakin mengglobal. Salah satunya bisa dimulai dengan membebaskan diri dari keterikatan penanda verbal identitas lokal yakni nama. 

Robin bukanlah generasi pertama keluarga Bali yang mulai tidak mematuhi tradisi pemberian nama depan khas Bali itu. Guru besar Fakultas Ekonomi Universitas Udayana, Prof. Dr. I Nyoman Erawan, S.E. (56), juga tidak lagi menyertakan nama depan khas Bali dalam nama anak-anaknya. Dari empat orang anaknya, semuanya langsung menunjuk kepada nama pokok yakni, Ngurah Indra, Mahendrawathi, Ngurah Agus Sanjaya serta Sukma Dewi. 

Nama-nama depan khas Bali itu sejatinya tidak lebih sebagai semacam penanda urutan kelahiran sang anak, dari pertama hingga keempat. Wayan diambil dari kata wayahan (tertua) sehingga digunakan sebagai nama depan untuk anak pertama. Selain Wayan, nama depan untuk anak pertama juga kerap kali digunakan Putu atau Gede. Dua nama ini biasanya digunakan oleh orang Bali di belahan utara dan barat, sedangkan di Bali Timur dan Selatan cenderung memilih nama Wayan. 

Sementara itu, Made diambil dari kata madya (tengah) sehingga digunakan sebagai nama depan anak kedua. Di beberapa daerah di Bali, anak kedua juga kerap diberi nama depan Nengah yang juga diambil dari kata tengah. Anak ketiga biasanya diberikan nama depan Nyoman atau Komang yang konon diambil dari kata nyeman (lebih tawar). Khusus untuk nama Nyoman ini konon mengambil perbandingan kepada lapisan kulit pohon pisang, di mana ada bagian yang selapis sebelum kulit terluar yang rasanya cukup tawar. Terakhir, anak keempat diberikan nama depan Ketut yang diambil dari kata ngetut (mengikuti atau mengekor). Bila keluarga Bali memiliki anak lebih dari empat, nama depan untuk anak kelima dan seterusnya mengulang kembali nama-nama depan sebelumnya sesuai urutannya. 

Tidak jelas benar, kapan tadisi pemberian nama depan ini mulai muncul di Bali. Yang pasti, menurut pakar linguistik dari Fakultas Sastra, Universitas Udayana, Prof. Dr. I Wayan Jendra, S.U. (63), nama depan itu ditemukan muncul pada abad ke-14 yang dipakai oleh raja Gelgel saat itu bergelar Dalem Ketut Kresna Kepakisan yang kemudian dilanjutkan putranya, Dalem Ketut Ngulesir. Dalem Ketut Kresna Kepakisan merupakan putra keempat dari Sri Kresna Kepakisan yang dinobatkan mahapatih Majapahit, Gajah Mada, sebagai penguasa perpanjangan tangan Majapahit di Bali. 

Namun, Jendra belum berani memastikan apakah hal itu berarti tradisi pemberian nama depan itu sebagai pengaruh Majapahit atau bukan. Yang jelas, hal ini terpelihara sebagai tradisi yang cukup lama. Masyarakat Bali hingga akhir abad XX masih tunduk menggunakannya hingga akhirnya menjadi semacam ciri khas untuk membedakan orang Bali dengan orang luar Bali, sebelum akhirnya secara perlahan mulai bergeser, tidak lagi ditaati secara ketat oleh orang Bali.

Pengingkaran ini sejatinya telah dimulai ketika nama-nama pokok yang mengikuti nama depan orang Bali juga mulai bergeser. Dahulu, nama-nama yang mengikuti nama depan itu amatlah khas seperti Cokot, Reneng, Lempad, Sadru, Gejer dan lainnya. Rata-rata nama-nama itu diambil dari istilah keseharian atau pun fenomena-fenomena alam yang menyrtai kelahiran sang bayi. Terkadang pula, pilihan nama pokok itu amat sederhana dengan hanya mengubah vokal suku kata anak pertama agar mudah diingat seperti Saplag, Sapleg, Suplig atau Saplig. 

Nama-nama unik dan otentik itu lebih menunjukkan respons orang Bali terhadap alam. Nama-nama yang digunakan memang dipilih berdasarkan fenomena alam yang menyertai kelahiran sang anak atau terkadang pengharapan sang orangtua terhadap anaknya kelak.
Namun, seiring perkembangan dunia yang begitu cepat, orang Bali pun memberi respons, salah satunya dengan pemberian nama anak-anaknya. Ketika perkembangan dunia menunjukkan kecenderungan mengglobal dengan titik orientasi ke dunia Barat, respons orang Bali dalam bentuk nama pun turut mengikuti. Maka, kemudian muncullah nama-nama yang berbau modern seperti Putu Desy Fridayanti, Made David Eka Putra atau pun Komang Diva Ananda. Secara ekstrem, perkembangan ini kemudian berpuncak kepada mulai ditanggalkannya nama-nama depan khas Bali itu.

Ada beberapa faktor penyebab mulai ditinggalkannya pemakaian nama depan khas Bali. Faktor pertama, sikap orang Bali yang malu sebagai minoritas. Dengan menggunakan nama khas Bali amat memperjelas mereka sebagai orang Bali. Sedangkan di Indonesia, kelompok minoritas termasuk orang Bali kerap kali sulit untuk bisa tampil di jajaran pemerintahan atau pun swasta di tingkat nasional. Agar tidak lagi ada penghalang untuk bersaing, maka orang-orang Bali menanggalkan nama-nama tradisi itu. 

Hal ini juga menjadi salah satu motivasi Putu Edi Robin tidak lagi menggunakan nama depan khas Bali untuk nama anak-anaknya. Mantan mahasiswa aktivis ini mengungkapkan, bila sudah diketahui sebagai orang Bali, tidak jarang orang Bali sudah langsung disingkirkan sebelum bersaing. ''Kita mesti jujur mengakui, masalah minoritas dan mayoritas di Indonesia belum sepenuhnya bisa didamaikan,'' kata aktivis Hindu ini. 

Memang, sejumlah orang Bali yang sukses di Jakarta kerap kali menuliskan namanya tanpa nama depan khas Bali. Sekjen Mahkamah Konstitusi, Anak Agung Oka Mahendra hanya menulis namanya dengan Oka Mahendra. Begitu juga penulis novel dan penyair Ida Ayu Oka Rusmini hanya menuliskan namanya dengan Oka Rusmini, begitu juga wartawan senior Raka Santeri, gitaris kondang Dewa Budjana serta penyanyi muda Saras Dewi. Meski begitu, ada juga orang-orang Bali yang meski masih menggunakan nama depan khas Bali namun tetap bisa sukses di persaingan nasional. Wartawan senior Putu Setia tetap percaya diri menuliskan nama Putu, sastrawan Putu Wijaya, Putu Gde Ary Suta serta sejumlah nama lainnya lagi. 

Selain motivasi ingin mengglobal, pergeseran dalam penggunaan nama orang Bali itu juga sebagai cermin perlawanan terhadap kasta. Munculnya semacam keberanian orang Bali dari golongan Jaba (yang diidentikkan sebagai kasta terendah) memakai nama Bagus atau Ngurah sebagai nama depan anaknya. Ada orang Bali kini menggunakan nama I Ngurah Suryawan, Bagus Antara atau pun Agung Mirah Prayoga. Padahal, dalam tradisi orang Bali, nama-nama Ngurah, Bagus atau Agung ''hanya boleh'' digunakan orang-orang dari golongan berkasta. 

Selama ini, kalau seseorang sudah menggunakan nama depan Made, Komang atau Ketut, bisa dipastikan sebagai orang Jaba-kecuali untuk kelompok Brahmana di desa Buda Keling, Karangasem yang masih mempertahankan tradisi pemakaian nama Ida Wayan, Ida Made dan seterusnya. Ketika terjadi perlawanan terhadap kasta, tumbuh kecenderungan untuk meninggalkannya agar tidak lagi ada sekat-sekat kasta. 

Menariknya, manakala orang Bali-Hindu sendiri mulai tidak lagi tertarik mempertahankan tradisi pemakian nama-nama depan khasnya, orang lain yakni orang non-Hindu yang tinggal di Bali termasuk orang asing justru menggunakannya dengan bangga. Orang-orang Islam di desa Pegayaman, Buleleng justru memelihara tradisi menggunakan nama khas Bali ini, sehingga muncul nama Ketut Syahruwardi Abbas,I Nengah Ibrahami atau pun Made Mohammad Saleh. Begitu juga orang-orang Kristen di Bali yang dengan bangga menggunakan nama Wayan Yusuf, Fransiscus Made Agus Hanzantha dan lainnya. 

Bahkan, orang-orang asing tanpa merasa malu, kuno atau kalah bersaing malah memburu nama-nama khas Bali itu. Sejarah Bali mencatat dengan jelas seorang wanita asal Skotlandia, Vanina Walker yang memperkenalkan kemolekan Pulau Bali sehingga sangat cocok sebagai daerah tujuan wisata dengan bangga menggunakan nama Ketut Tantri dalam bukunya, Revolusi di Nusa Damai.



Selasa, 05 Februari 2013

INTERAKSI SOSIAL


Setiap hari kita pasti bergaul atau berhubungan dengan teman, orang tua, saudara, maupun orang-orang yang ada di sekitar kita. Aktivitas bergaul dengan orang lain itu kita sebut dengan interaksi sosial.
1. Pengertian Interaksi Sosial
Kodrat manusia sebagai makhluk sosial adalah keinginannya untuk selalu hidup bersama dengan orang lain dalam suatu kelompok atau masyarakat. Tidak seorang pun di dunia ini yang mampu hidup sendiri tanpa melakukan hubungan atau kerja sama dengan orang lain. Karena pada kodratnya manusia memiliki keterbatasan dan sejak lahir sudah dibekali dengan naluri untuk berhubungan dengan orang lain. Misalnya, seorang balita memerlukan perawatan dan bantuan ibunya karena ia belum mampu memenuhi kebutuhannya sendiri. Selanjutnya, ia memerlukan pemeliharaan kesehatan, pendidikan, dan pergaulan.
Dari contoh tersebut jelas bahwa pada dasarnya kita selalu membutuhkan orang lain. Kita membutuhkan banyak hal dalam hidup kita. Semua kebutuhan hidup itu hanya dapat kita penuhi dengan jalan mengadakan hubungan sosial dengan orang-orang yang ada di sekitar kita. Melalui hubungan itu kita menyampaikan maksud, tujuan, dan keinginan untuk mendapatkan tanggapan (reaksi) dari pihak lain. Hubungan timbal balik (aksi dan reaksi) inilah yang kita sebut interaksi sosial. Jadi apakah yang dimaksud dengan interaksi sosial? Interaksi sosial adalah hubungan-hubungan dinamis yang menyangkut hubungan antara individu dengan individu, antara individu dengan kelompok, atau antara kelompok dengan kelompok, baik berbentuk kerja sama, persaingan, ataupun pertikaian.
2. Jenis-Jenis Interaksi Sosial
Seperti terlihat dalam definisi di atas, interaksi sosial selalu melibatkan dua orang atau lebih. Oleh karena itu, terdapat tiga jenis interaksi sosial, yaitu interaksi antara individu dengan individu, antara kelompok dengan kelompok, dan antara individu dengan kelompok.
a. Interaksi antara Individu dengan Individu
Pada saat dua individu bertemu, walaupun tidak melakukan kegiatan apa-apa, namun sebenarnya interaksi sosial telah terjadi apabila masing-masing pihak sadar akan adanya pihak lain yang menyebabkan perubahan dalam diri masingmasing. Seperti minyak wangi, bau keringat, bunyi sepatu ketika berjalan, dan hal-hal lain yang bisa mengundang reaksi orang lain. Interaksi jenis ini selain tidak harus konkret seperti telah dijelaskan di atas, juga bisa sangat konkret. Wujudnya antara lain berjabat tangan, saling bercakap-cakap, saling menyapa, dan lain-lain.
b. Interaksi antara Kelompok dengan Kelompok
Interaksi jenis ini terjadi pada kelompok sebagai satu-kesatuan, bukan sebagai pribadi-pribadi anggota kelompok yang bersangkutan. Maksudnya kepentingan individu dalam kelompok merupakan satu-kesatuan yang berhubungan dengan kepentingan individu dalam kelompok lain. Contohnya pertandingan antartim kesebelasan sepak bola. Mereka bermain untuk kepentingan kesebelasannya (kelompok).
c. Interaksi antara Individu dengan Kelompok
Interaksi antara individu dengan kelompok menunjukkan bahwa kepentingan individu berhadapan dengan kepentingan kelompok. Bentuk interaksi ini berbeda-beda sesuai dengan keadaan. Contohnya seorang guru yang mengawasi murid-muridnya yang sedang mengerjakan ujian. Dalam hal ini seorang guru sebagai individu berhubungan dengan murid-muridnya yang berperan sebagai kelompok.
3. Syarat Terjadinya Interaksi Sosial
Syarat utama terjadinya suatu interaksi sosial adalah adanya kontak sosial (social contact) dan komunikasi (communication) .
a. Kontak Sosial
Kontak berasal dari kata Latin cum atau con yang berarti bersama-sama, dan tangere yang memiliki arti menyentuh. Jadi, secara harafiah kontak berarti bersama-sama menyentuh. Dalam pengertian sosiologis, kontak merupakan gejala sosial, di mana orang dapat mengadakan hubungan dengan pihak lain tanpa mengadakan sentuhan fisik, misalnya berbicara dengan orang lain melalui telepon, surat, dan sebagainya. Jadi, kontak sosial merupakan aksi individu atau kelompok dalam bentuk isyarat yang memiliki makna bagi si pelaku dan si penerima, dan si penerima membalas aksi itu dengan reaksi.
Kita membedakan kontak berdasarkan cara, sifat, bentuk, dan tingkat hubungannya.
1) Berdasarkan Cara
Kita mengenal dua macam kontak dilihat dari caranya, yaitu kontak langsung dan kontak tidak langsung.
a) Kontak langsung terjadi secara fisik. Misalnya dengan berbicara, tersenyum, atau bahasa gerak (isyarat).
b) Kontak tidak langsung terjadi melalui media atau perantara tertentu, seperti pesawat telepon, radio, televisi, telegram, surat, dan lain-lain.
2) Berdasarkan Sifat
Berdasarkan sifatnya, kita mengenal tiga macam kontak, yaitu kontak antarindividu, antara individu dengan kelompok, dan antara kelompok dengan kelompok.
a) Kontak antarindividu, misalnya tindakan seorang anak mempelajari kebiasaan-kebiasaan dalam keluarganya.
b) Kontak antara kelompok dengan kelompok, misalnya pertandingan bola voli antarsiswa SMA se-Jakarta.
c) Kontak antara individu dengan kelompok, misalnya tindakan seorang guru yang sedang mengajar siswanya agar mereka mempunyai persepsi yang sama tentang sebuah masalah. Contohnya guru tari yang melatih beberapa murid, sehingga terjadi persamaan gerak di antara mereka.
3) Berdasarkan Bentuk
Dilihat dari bentuknya, kita mengenal dua macam kontak, yaitu kontak positif dan kontak negatif.
a) Kontak positif mengarah pada suatu kerja sama. Misalnya seorang pedagang melayani pelanggannya dengan baik dan si pelanggan merasa puas dalam transaksi tersebut.
b) Kontak negatif mengarah pada suatu pertentangan, bahkan berakibat putusnya interaksi sebagaimana tampak dalam perang Lebanon dan Israel.
4) Berdasarkan Tingkat Hubungan
Menurut tingkat hubungannya, kita mengenal kontak primer dan kontak sekunder.
a) Kontak primer terjadi apabila orang yang mengadakan hubungan langsung bertemu dan bertatap muka. Misalnya orang yang saling berjabat tangan, saling melempar senyum, dan sebagainya.
b) Kontak sekunder memerlukan suatu perantara atau media, bisa berupa orang atau alat. Selain itu juga dapat dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Kontak sekunder langsung misalnya berbicara melalui telepon.
Adapun contoh kontak sekunder tidak langsung dapat kamu pahami dari cerita berikut ini. "Toni berkata kepada Sigit bahwa Ani mengagumi permainannya sebagai pemegang peran utama dalam pementasan sandiwara yang lalu. Ani mendapat ucapan terima kasih dari Sigit atas pujiannya melalui Toni". Dari cerita tersebut dapat diketahui bahwa walaupun Toni sama sekali tidak bertemu dengan Ani, tetapi di antara mereka telah terjadi suatu kontak karena masing-masing memberi tanggapan.
b. Komunikasi
Dalam berinteraksi dengan kawan-kawanmu, tentu kamu juga melakukan komunikasi. Apakah komunikasi itu? Komunikasi dapat diwujudkan dengan pembicaraan gerakgerik fisik, ataupun perasaan. Selanjutnya, dari sini timbul sikap dan ungkapan perasaan, seperti senang, ragu, takut, atau menolak, bersahabat, dan sebagainya yang merupakan reaksi atas pesan yang diterima. Saat ada aksi dan reaksi itulah terjadi komunikasi. Jadi, komunikasi adalah tindakan seseorang menyampaikan pesan terhadap orang lain dan orang lain itu memberi tafsiran atas sinyal tersebut serta mewujudkannya dalam perilaku.
Dari uraian di atas, tampak bahwa komunikasi hampir sama dengan kontak. Namun, adanya kontak belum tentu berarti terjadi komunikasi. Komunikasi menuntut adanya pemahaman makna atas suatu pesan dan tujuan bersama antara masing-masing pihak.

Senin, 04 Februari 2013

Budaya Tawuran Antarpelajar


Melihat dari beberapa peristiwa tawuran yang disuguhkan oleh pelajar menunjukkan seolah-olah tawuran antarpelajar ini sudah menjadi kebanggan siswa di Indonesia. Lantas siapa yang disalahkan?
Pertama penulis akan kedepankan pandangan sosiologi budaya mengenai penyimpangan sosial yang kerap dilakukan anak dalam tiga pilar utama pendidikan. Dalam tataran awal, dalam lingkungan keluarga, kita meyakini bahwa orang tua selalu mengajarkan dan mendidik anak- anaknya agar mampu bertindak dan berprilaku sesuai dengan nilai-nilai atau norma sosial yang berlaku. Orang tua mendidik anak-anaknya dengan norma agama, etika, sopan santun, adat istiadat tentu yang memiliki tujuan. Tujuan mereka agar anaknya nanti menjadi anak yang berguna bagi Nusa dan Bangsa. Namun tidak tertutup kemungkinan bahwa dalam  lingkungan keluarga terjadi penerapan yang salah dari orang tua terhadap anak. Orang tua dalam kapasitasnya sebagai pemasuk sumber ekonomi kerap tidak memperhatikan anak, atau kebutuhan anak dan orang tua hanya berpatokan pada pemenuhan kebutuhan sandang dan pangan tanpa melihat karakter dan pergaulan anak di lingkungan masyarakat.

Jika ditilik dari sisi kemiskinan sebagai salah satu faktor kekerasan atau tawuran antar pelajar itu maka penulis tidak setuju. Bagi sebagian besar orang tua gambaran kasih sayang yang berlebihan sama sekali tidak baik kepada anak. Dengan mudah anak memiliki handphone canggih yang harganya mahal dan justru mempermudah anak untuk belajar hal hal yang belum pantas dipelajari. Padahal jika menilik dari kelengkapan sarana anak belajar di rumah, maka dalam hal ini orang tua mengedepankan kebutuhan anak di luar belajar, motor dan bahkan mobil  sesungguhnya bukan sebagai penunjang dari proses belajar itu.

Keluarga juga dalam hal ini orang tua terkesan membela anak dalam kesalahan kesalahan yang dilakukan anak disekolah. Siapa yang melakukan tawuran antarpelajar mungkin ada diantara mereka anak pejabat, siapa yang melakukan balapan liar? Apakah orang miskin bisa dengan mudah mendapatkan fasilitas begitu, dan yang melakukan seks bebas pelajar dari kalangan mana? Jadi kemiskinan bukan faktor tawuran antar pelajar.

Yang kedua dalam lingkungan masyarakat, anak memiliki kebutuhan yang tidak semuanya dapat dipenuhi oleh keluarga sehingga anak keluar rumah dan menemukan orang lain atau faktor lain yang dapat memenuhi kebutuhannya. Kasih sayang yang tidak ditemukan dalam keluarganya ditemukan dalam diri orang lain. Kenyataan ini sering kita lihat dari anak yang cenderung melanggar norma norma sosial setelah beradaptasi dalam masyarakat. Hampir tiap hari kita melihat bahwa tidak ada lagi batasan-batasan pergaulan antara anak yang masih sekolah dengan pengangguran yang bertebaran diseluruh sudut kota bahkan sampai ke desa.

Yang ketiga lingkungan sekolah. Kecenderungan kita selama ini ketika terjadi penyimpangan sosial oleh anak dalam kapasitasnya sebagai pelajar maka kita mengkambing hitamkan sekolah.  Perlu diketahui keterbatasan keluarga mengakibatkan keluarga tersebut mencari lembaga lain untuk memenuhi kebutuhan anaknya yang salah satu diantaranya kebutuhan akan pendidikan. Akan tetapi yang paling penting atau paling mendasar adalah baik dan buruknya penerapan norma-norma agama, etika, sopan santun, adat istiadat kepada anak oleh orang tua mau tidak mau akan terbawa ke sekolah. Memang ada hal-hal lain yang sangat prinsip yang harus dilakukan sekolah dalam pembinaan karakter dan mental anak, akan tetapi inipun tidak akan berguna jika tidak mendapat dukungan dari keluarga dan masyarakat.

Dewasa ini guru sudah kehilangan fungsinya sebagai pendidik karena dibatasi aturan-aturan tentang fungsi guru sebagai pendidik. Masih jelas terngiang di ingatan kita banyak guru yang harus berurusan dengan hukum hanya karena menjewer telinga anak dan bentuk hukuman lain. Perlu kita ketahui bahwa guru dalam menghukum tetap mengedepankan kasih sayang, cinta kasih terhadap anak, hal ini jarang mendapatkan apresiasi dari orang tua murid atau pun masyarakat.

Memang zaman sekarang sekolah terlalu mengedepankan nilai-nilai akademik demi menunjang tingkat kelulusan ataupun kenaikan kelas karena pada kenyataannya keluarga dan masyarakat terkadang tidak bisa menerima apabila anak dinyatakan tidak lulus atau tidak naik kelas. Kondisi itu diperparah hanya demi sebuah prestasi sekolah  lulus 100%, dan demi predikat dinyatakan sekolah yang baik yang bermuara pada persaingan antarsekolah.

Salah Siapa?


Menyimak hal di atas siapakah yang pantas dipersalahkan? Tentunya bukan hanya orangtua, guru sekolah, masyarakat, pemerintah juga dapat dipersalahkan. Salah satu contoh dengan dianggarkannya besaran dana pendidikan dalam APBN maupun APBD sebasar 20% untuk biaya pendidikan walaupun penggunaan anggaran telah diatur dalam aturan tertentu namun masih ada celah dalam aturan tersebut untuk melakukan praktek korupsi diperparah lagi dengan ketidakjujuran para pejabat daerah maupun pusat sehingga membuka peluang untuk melakukan hal-hal ketidak jujuran lainya. Berita praktik buruk seperti inilah yang kerap di konsumsi para siswa siswi di tengah masyarakat Indonesia.

Praktik buruk lainya yang tanpa disadari akan menjadi konsumsi bahkan diperbincangan oleh para siswa-siswi ialah budaya demo yang dilakukan oleh masyarakat melalui ormas, OKP, dan organisasi organisasi lainnya yang berbuntut kekerasan sehingga menjadi komoditas tontonan yang sangat laku di kalangan pelajar.

Jika kita menyimak kejadian-kejadian terjadinya tawuran antara siswa sekolah, kebanyakan bermuara dari persoalan pribadi yang tidak lebih dari dua orang yang kemudian membawa persoalan tersebut ke lingkungan sekolah sehingga melibatkan siswa lainnya.

Untuk menanggulangi tawuran antara sekolah, selain penerapan norma-norma agama, etika, sopan santun dan adat istiadat dari orang tua masyarakat serta guru.

Pemerintah (eksekutif) bersama legislaitif (DPR) perlu duduk bersama agar mencari formula baru untuk mengantisipasi terjadinya tawuran, dan Pemerintah agar secepat mungkin merumuskan sebuah aturan resmi yang berlaku untuk seluruh masyarakat Indonesia tentang disiplin siswa tanpa bertentangan dengan aturan lainnya seperti HAM, UU perlindungan anak dan lain-lain. Akhirnya dengan mengedepankan kejujuran, keterbukaan, dan kerjasama semua pihak mari kita wujudkan pendidikan yang jauh dari kekerasan, jauh dari tawuran.

http://haluankepri.com/opini-/36059-budaya-tawuran-antarpelajar.html

Peran Manajer Lini Dalam Pengelolaan Kinerja Karyawan


Suatu hari  menjelang akhir tahun, seorang manajer  penjualan sebuah perusahaan memerlukan untuk duduk beberapa saat  dan memikirkan seberapa baik performance atau kinerja para anak buahnya selain pencapaian penjualan yang telah dibukukan.  Setelah duduk lebih dari satu jam sang manajer masih belum bisa menuliskan pencapaian kinerja anak buahnya selain pencapaian penjualan.   Karena kesulitan mengingat masing-masing kinerja para anak buahnya, akhirnya yang dilakukan adalah mengingat interaksi terakhir yang dilakukan oleh para salesman dengan dirinya.  Mereka yang terakhir berinteraksi positif dengan sang manajer dalam waktu dekat akan dinilai memiliki kinerja yang cukup positif. 
Hal tersebut diatas sering dialami tidak hanya oleh manajer penjualan saja,  tetapi juga dialami oleh manajer operasi, manajer pembelian dan juga hampir sebagian besar manajer.  Terutama manajer yang perusahaannya belum memiliki sistem pengelolaan kinerja individu yang baku atau individual performance management system.  Selain itu juga beberapa orang didalam perusahaan, terutama manajer lini diluar manajer sumber daya manusia  menganggap bahwa pengelolaan kinerja individu hanyalah berupa aktifitas penilaian kinerja (performance appraisal) diakhir tahun yang dilakukan oleh atasan kepada bawahannya.  Padahal pengelolaan kinerja lebih luas dibandingkan dengan sekedar penilaian kinerja akhir tahun.  Pengelolaan kinerja karyawan juga memberikan  dampak langsung terhadap pencapaian kinerja organisasi.
Konsep individual performance management system mestinya terdiri atas tiga fase.  Fase  pertama adalah fase perencanaan kinerja.   Fase kedua adalah bagaimana mengelolanya dan fase ketiga atau fase terakhir baru berbicara mengenai penilaian kinerja.  Ketiga  fase tersebut semuanya harus melibatkan para manajer lini.
Fase pertama berupa perencanaan kinerja dimulai dari bagaimana individu-individu didalam organisasi sebagai penggerak pencapaian strategi perusahaan di berdayakan secara maksimal.  Sehingga strategi menjadi ”everybody’s job”.  Fase perencanaan kinerja intinya adalah fase pencapaian kesepakatan antara atasan dan bawahan untuk menyelaraskan sasaran bawahan dengan sasaran organisasi.   Fase ini disebut juga dengan fase “setting individual goal & objective”.
Fase kedua adalah fase mengelola kinerja.  Pada fase ini yang pertama kali dilakukan monitoring dan review pada waktu-waktu tertentu hasil kinerja sementara karyawan untuk dilihat apakah terjadi gap antara target yang ditetapkan dengan pencapaian target sementara. Apabila terjadi gap maka sang atasan akan melakukan beberapa langkah berupa feedback, coaching, maupun counseling agar gap antara target dan pencapaian semakin kecil atau sebisa mungkin dihilangkan. Sehingga diharapkan apabila kinerja individu tercapai maka kinerja organisasi untuk mengimplementasikan strateginya bisa tercapai.
Fase ketiga adalah evaluasi kinerja , yaitu kesempatan periodik untuk melakukan komunikasi antara orang yang menugaskan pekerjaan dengan orang yang mengerjakannya untuk mendiskusikan apa yang mereka harapkan dari satu sama lain dan seberapa jauh harapan ini dipenuhi.  Aspek-aspek yang dibahas dalam evaluasi kinerja antara lain: kinerja karyawan , pengembangan karyawan , umpan balik dari karyawan tentang hubungan dengan manajer dan organisasi , serta aspirasi karyawan.  Manfaat dari evaluasi kinerja adalah adalah;  memberikan umpan balik yang berharga tentang pekerjaan yang telah dilakukan, mengkomunikasikan apa yang diharapkan dalam pekerjaan, peluang untuk menciptakan gagasan baru dan meningkatkan proses kerja, mengurangi keraguan karyawan tentang prestasi kerjanya, karyawan mendapatkan saran-saran untuk meningkatkan produktivitas, penghargaan untuk kontribusi positif serta memfasilitasi komunikasi dua arah dengan karyawan.
Sehingga pengelolaan kinerja individu oleh manajer lini diharapkan berkontribusi terhadap pencapaian strategi organisasi.
http://www.gmlperformance.com/gmlnew/berita-215-peran-manajer-lini-dalam-pengelolaan-kinerja-karyawan.html